Bolehkah marah? Sedapat-dapatnya jangan,
tapi kalau terpaksa atau memang benar-benar perlu, maka marah tentu saja boleh,
asalkan janganlah amarah kita itu membuat kita terjerumus pada perbuatan yang
tidak terpuji.
Marah, kadangkala memang diperlukan untuk
menunjukkan ketegasan kita pada sesuatu yang nyata-nyata tidak benar. Marah
karena ketidakadilan, marah karena kesewenang-wenangan, marah karena
kecerobohan dan kelalaian. Marah untuk menunjukkan “yang seharusnya”, marah
untuk mengarahkan kepada hal yang lebih baik, marah untuk menegur dan
menyadarkan seseorang yang khilaf.
Tetapi hati-hati, sebab marah itu
beda-beda tipis dengan istilah pemarah alias tukang marah-marah, tukang protes,
tukang kritik, tukang ngomel. Marah itu boleh tapi suka marah-marah itu jelas
tidak boleh.
Lantas bagaimana membedakan amarah kita
antara marah karena perlu dengan marah karena memang suka marah-marah?
Ini bukan ukuran pasti, tapi mungkin bisa
dijadikan pertimbangan. Orang yang bijak hanya akan marah kalau benar-benar
memang ia perlu marah, ia tahu kepada siapa ia harus melampiaskan kemarahannya
dan batasan substansi yang diamarahkan. Biasanya setelah marah orang ini didera
rasa menyesal dan kasihan pada yang dimarahinya dan
kebanyakan dari mereka segera membuat rekonsiliasi, misalnya menghibur orang
yang tadi dimarahi.
Berbeda dengan si pemarah alias orang yang
sukanya marah-marah. Segala sesuatu, entah benar atau salah, dapat menjadi
sumber amarah. Marahnya seringkali menabrak substansi yang ada di luar masalah.
Misalnya marah karena kerjaan tidak beres akhirnya melebar pada memprotes
karakter atau latar belakang seseorang. Ini jelas marah yang tidak tepat. Si
pemarah juga cenderung butuh “melampiaskan” amarahnya, pelampiasan bisa
sembarangan. Bos di kantor marah pada seorang karyawan laki-laki, si karyawan
tidak bisa membalasnya lalu melampiaskan amarah pada istrinya, istrinya tidak
bisa membalasnya, lalu melampiaskan amarah pada anaknya, anaknya tidak bisa
membalasnya, lalu melampiaskan dengan menjitak adiknya atau menendang
kucingnya. Inilah rantai energi negatif dari amarah yang tak berkesudahan dan
menimbulkan dampak buruk bagi banyak aspek kehidupan.
Marah … marah … dan marah, bukankah itu
wajah masyarakat kita hari ini? Dulu kita terkenal sebagai orang timur yang
RAMAH, sekarang kita memiliki citra baru sebagai orang timur yang suka MARAH.
Inilah jadinya kalau energi marah-marah terakumulasi secara komunal. Tak ayal
lagi konflik dan disintegrasi bangsa terjadi di mana-mana, sebab semua orang
mulai suka marah-marah.
Menjadi marah pada orang lain atau pada obyek eksternal itu hal yang sangat
mudah, tetapi tentu lebih bijaksana bila kita lebih banyak meluangkan waktu
untuk “marah pada diri sendiri”. Seandainya setiap kita lebih banyak “marah
pada diri sendiri”, maka kita akan lebih sedikit marah pada orang lain. Dan
rasanya dengan begitu boleh jadi kita tidak perlu sampai marah pada orang lain,
sebab orang tinggal melihat teladan hidup kita, dan mereka segera tersadar
bahwa mereka sudah khilaf. “Siapa pun bisa marah - marah itu mudah.
Tetapi, marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang
tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik - bukan hal mudah.”
(Aristoteles).