Selasa, 29 Maret 2016

Melampiaskan Amarah

Bolehkah marah? Sedapat-dapatnya jangan, tapi kalau terpaksa atau memang benar-benar perlu, maka marah tentu saja boleh, asalkan janganlah amarah kita itu membuat kita terjerumus pada perbuatan yang tidak terpuji. 

Marah, kadangkala memang diperlukan untuk menunjukkan ketegasan kita pada sesuatu yang nyata-nyata tidak benar. Marah karena ketidakadilan, marah karena kesewenang-wenangan, marah karena kecerobohan dan kelalaian. Marah untuk menunjukkan “yang seharusnya”, marah untuk mengarahkan kepada hal yang lebih baik, marah untuk menegur dan menyadarkan seseorang yang khilaf. 

Tetapi hati-hati, sebab marah itu beda-beda tipis dengan istilah pemarah alias tukang marah-marah, tukang protes, tukang kritik, tukang ngomel. Marah itu boleh tapi suka marah-marah itu jelas tidak boleh. 

Lantas bagaimana membedakan amarah kita antara marah karena perlu dengan marah karena memang suka marah-marah? 

Ini bukan ukuran pasti, tapi mungkin bisa dijadikan pertimbangan. Orang yang bijak hanya akan marah kalau benar-benar memang ia perlu marah, ia tahu kepada siapa ia harus melampiaskan kemarahannya dan batasan substansi yang diamarahkan. Biasanya setelah marah orang ini didera rasa  menyesal dan kasihan pada yang dimarahinya dan kebanyakan dari mereka segera membuat rekonsiliasi, misalnya menghibur orang yang tadi dimarahi. 

Berbeda dengan si pemarah alias orang yang sukanya marah-marah. Segala sesuatu, entah benar atau salah, dapat menjadi sumber amarah. Marahnya seringkali menabrak substansi yang ada di luar masalah. Misalnya marah karena kerjaan tidak beres akhirnya melebar pada memprotes karakter atau latar belakang seseorang. Ini jelas marah yang tidak tepat. Si pemarah juga cenderung butuh “melampiaskan” amarahnya, pelampiasan bisa sembarangan. Bos di kantor marah pada seorang karyawan laki-laki, si karyawan tidak bisa membalasnya lalu melampiaskan amarah pada istrinya, istrinya tidak bisa membalasnya, lalu melampiaskan amarah pada anaknya, anaknya tidak bisa membalasnya, lalu melampiaskan dengan menjitak adiknya atau menendang kucingnya. Inilah rantai energi negatif dari amarah yang tak berkesudahan dan menimbulkan dampak buruk bagi banyak aspek kehidupan. 

Marah … marah … dan marah, bukankah itu wajah masyarakat kita hari ini? Dulu kita terkenal sebagai orang timur yang RAMAH, sekarang kita memiliki citra baru sebagai orang timur yang suka MARAH. Inilah jadinya kalau energi marah-marah terakumulasi secara komunal. Tak ayal lagi konflik dan disintegrasi bangsa terjadi di mana-mana, sebab semua orang mulai suka marah-marah. 
Menjadi marah pada orang lain atau pada obyek eksternal itu hal yang sangat mudah, tetapi tentu lebih bijaksana bila kita lebih banyak meluangkan waktu untuk “marah pada diri sendiri”. Seandainya setiap kita lebih banyak “marah pada diri sendiri”, maka kita akan lebih sedikit marah pada orang lain. Dan rasanya dengan begitu boleh jadi kita tidak perlu sampai marah pada orang lain, sebab orang tinggal melihat teladan hidup kita, dan mereka segera tersadar bahwa mereka sudah khilaf. “Siapa pun bisa marah - marah itu mudah. Tetapi, marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik - bukan hal mudah.” (Aristoteles).

Senin, 18 Januari 2016

Belajar Dari Kesalahan

            Terkadang ada saat kita melakukan hal yang salah, bahkan terkadang dapat mencelakakan diri kita sendiri atau pun orang lain. Terutama pada kaum muda, rata-rata memiliki ego yang sangat tinggi. Tidak mau mendengarkan nasehat dari Orang Tua-nya, justru malah lebih mementingkan kepentingkan egonya sendiri. Coba dipikirkan bila saat kita tidak mau mendengarkan omongan atau nasehat dari orang tua, apa yang akan mereka rasakan? Pasti mereka akan merasa sangat sedih bukan?. Tuhan telah menitipkan kita kepada orang tua kita, kita telah dilahirkan dan menjadi tanggung jawab mereka.

             Bahkan alasan utama mereka tetap hidup adalah demi untuk membahagiakan kita. Pernahkah kau sedikit berfikir seberapa banyak dan sseberapa besar tanggung jawab yang mereka miliki untuk menjagamu? bahkan ketika mereka marah atau merasa kesal padamu mereka juga masih menyimpan rasa kasih sayang yang mereka miliki untukmu, mereka juga tak lupa mendoakanmu, tapi apa yang dapat kau lakukan disaat kau merasa seperti itu? mungkin hanya dapat bergumam tentang hal yang tidak jelas saja bukan?
             kesalahan terbesar adalah membuat orang tua kita menjatuhkan butiran-butiran mutiaranya. bangunlah dari segala keburukan-keburukan yang kau miliki, buanglah keburukan tersebut sejauh mungkin. Jangan berfikir bahwa anda tidak bisa melakukannya, tetapi berfikirlah bahwa semua kelemahan dapat kita ubah menjadi kelebihan.